Dasar Pemikiran

Mimpi-mimpi Mendirikan MBN

Ada rasa ragu menjalar sekujur tubuh, merasuk ke setiap pori-pori dan berdetak dalam setiap helaan nafas. Iya. Perasaan itu saya rasakan ketika lulus SMA, sewindu lalu.

Kala itu, finansial keluarga sedang tak menentu, ditambah lagi dengan keadaan eknonomi di Indonesia juga tidaklah sehat. Kondisi ini, saya yakin, dirasakan pula oleh jutaan remaja menjelang dewasa lainnya. Bukan hanya saya.

Memupus rasa khawatir itu, saya putuskan terbang ke Jepang. Saya meyakini ada asa di Negeri Sakura; ada masa depan yang gemilang, ada perekonomian negara yang mapan, ada teknologi yang canggih, pendidikan yang cemerlang dan peradaban yang maju.

Tapi, ketika saya sampai di Jepang, saya melihat kondisi Jepang yang sedang bergelut dengan masalah demografi penduduk. Ada pengurangan warga asli Jepang yang serius. Ini, tentunya berimbas terhadap segala aspek kehidupan, khususnya berkurangnya jumlah penduduk usia kerja.

Jepang, yang saya anggap sebagai negara yang memiliki kebijakan-kebijakan publik yang sangat baik, serta mempunyai perencanaan masa depan yang bagus pun, akhirnya menghadapi masalah seperti ini. Ironi. Sebuah kondisi yang berkebalikan dengan Indonesia, dimana banyak anak muda yang tidak terserap lapangan kerja.

Saya berpikir bagaimana caranya agar negara-neagra di seluruh dunia, khususnya Indonesia mampu menghilangkan kekhawatiran akan masa depan. Anak muda seperti saya, saat sewindu lalu yang galau menatap masa depan, harus mendapatkan solusi. Dan solusinya bisa gayung bersambut dengan problem demografi di Jepang tadi.

Saya berpikir bahwa masa depan itu tidak datang tiba-tiba. Masa depan itu ada karena masa kini. Dan kita sebagai generasi muda, bertanggung jawab untuk masa depan dunia ini.

Oleh karena itu saya merasa bahwa mendidik anak muda agar bisa menciptakan masa depan mereka sendiri, belajar dari masalah-masalah yang terjadi baik di Indonesia ataupun di Jepang, adalah salah satu kunci untuk menyelesaikan masalah akan ke khawatiran di masa depan. Karena masa depan itu sendiri kita yang membuat dan yang menentukan.

Muda Berdaya Nusantara (MBN), inilah nama yang saya dan teman-teman muda profesional lainnya pilih. Semangat muda yang ingin hidup mandiri, berdaya dan mulia. Lembaga pendidikan dan pelatihan MBN berdiri oleh para pemuda dan untuk untuk mendidik anak muda sebagai pemilik masa depan. Kami ingin, anak-anak muda di Indonesia dan seluruh dunia, bisa percaya diri membuat masa depan dalam genggaman. Mereka harus yakin dan percaya, bahwa harapan itu masih ada.

Akhirnya saya berharap, MBN ini bisa menjadi lembaga pelatihan bertaraf internasional, didukung oleh manajemen sumber daya muda yang solid, kokoh, profesional dan teladan kebaikan. Semoga MBN menjadi bagian dari solusi atas berbagai problematika bangsa, khususnya Indonesia dan Jepang.

Gifar Solahudin
Nagoya, 10 Juli 2019